Minggu, 30 Juni 2013

Analisis Puisi "Slopeng Basah" karya Urip Sukamto


BAB I
PENDAHULUAN

            Puisi merupakan suatu bentuk karya sastra yang memuat berbagai fenomena-fenomena kehidupan yang terpendam dan perlu diungkap serta dipahami. Dengan demikian maka pesan atau manfaat yang terkandung didalamnya akan ditangkap dan dirasakan oleh pembaca, sehingga puisi akan bermakna dan dapat dijadikan sebagai bahan refleksi diri atau media pembelajaran.
            Untuk dapat memahami dan menyelami maknanya atau bahkan mengkritik karya sastra puisi tentu tidak mudah, perlu adanya suatu teori dan metode-metode tertentu yang nantinya akan dijadikan “pisau bedah” dalam menginterpretasi sebuah puisi. Teori yang digunakan haruslah sesuai dengan sudut pandang dan hal-hal tertentu yang ingin diungkap oleh kritikus dari sebuah puisi, sehingga apa yang ingin diungkap dapat diperoleh dengan baik.
A.    Teori kritik
            Struktural Semiotik adalah salah satu metode kritik dimana dalam penerapannya yaitu mengkaji tentang struktur karya sastra berupa unsur intrinsik karya serta kaitannya dengan sistem lambang atau simbol yang dikenal dengan semiotik yang terdapat dalam karya sastra puisi.
            Semiotik adalah ilmu tanda dan istilah ini berasal dari kata Yunani yang berarti tanda. (Panuti Sudjiman & Aart van Zoest, 1992). Secara umum semiotik ilmu yang mempelajari tentang tanda-tanda. Semiotik itu mempelajari sistem- sistem, aturan-aturan, dan konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti. Dalam kritik sastra, penelitian semiotik mempunyai analisis sastra sebagai sebuah penggunaan bahasa yang bergantung pada konvensi-konvensi tambahan dan memiliki ciri-ciri yang menyebabkan bermacam-macam cara. (Preminger, dalam Pradopo, 119). Semiotika modern mempunyai dua orang pelopor, yaitu Charles Sanders Peirce (1839-1914) dan Ferdinand de Saussure (1857-1913).
B.     Deskripsi Teori
            Metode struktural adalah salah satu dari banyak metode yang digunakan penulis dalam menginterpretasi puisi yang berjudul “Slopeng Basah”  yang ditulis oleh Urip Sukamto, M. Pd.
            Dalam pandangan semiotik, bahasa merupakan sebuah sistem tanda, dan sebagai suatu tanda bahasa mewakili sesuatu yang lain yang disebut makna. Bahasa sebagai suatu sistem tanda dalam teks kesastraan tidak hanya menyaran pada sistem makna tingkat pertama, melainkan terlebih pada sistem makna tingkat kedua. (culler, 1977: 114) Bahasa berkedudukan sebagai bahan dalam hubungannya dengan sastra, sudah mempunyai sistem dan konversi sendiri, maka disebut sistem semiotik tingkat pertama. Sastra mempunyai sistem dan konversi sendiri yang mempergunakan bahasa, disebut sistem semiotik tingkat kedua.
            Ilmu semiotik ini menganggap bahwa fenomena sosial dan kebudayaan itu merupakan tanda- tanda. Hal ini mengingat bahwa karya sastra itu merupakan sistem tanda yang mempunyai makna yang mempergunakan bahasa. Bahasa sebagai karya sastra sudah merupakan sistem semiotik atau ketandaan, yaitu sistem ketandaan yang mempunyai arti 
            Tanda mempunyai dua aspek: Penanda dan Petanda. Penanda adalah bentuk formal yang menandai sesuatu. Sedangkan Petanda adalah sesuatu yang ditandai oleh penanda itu. Tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain yang dapat berupa pengalaman, pikiran, perasaan, gagasan. Dalam hubungannya antara penanda dan petanda ada beberapa jenis tanda yaitu ikon, indeks, dan symbol.
·         Ikon adalah tanda yang paling mudah dipahami karena kemiripannya dengan sesuatu yang diwakili(A.Chaer,2002:41).  Dengan kata lain yaitu suatu tanda yang acuan dengan hubungannya memiliki kemiripan. Contoh:
peta, sketsa, dan globe (ikon tipologis).
·         Indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya sesuatu yang lain(A.Chaer,2002:41). Indeks adalah tanda yang dengan acuanya memiliki kedekatan eksistensi.
Contoh:
hari mendung menjadi tanda hujan. Gambaran suasana yang muram dalam pementasan wayang merupakan indeks tokoh sedang sedih.
·         Simbol adalah tanda yang hubungan dengan acuan terbentuk secara konvensional. Jadi sudah ada persetujuan antara pemakai tanda tentang hubungan tanda dengan acuannya.
Contoh:
rambu lalu lintas, dll..
            Dalam mengkomunikasikan informasi manusia menggunakan tanda dan simbol sebagai medianya. sistem tanda juga digunakan dalam banyak hal, seperti traffic light, simbol lalu lintas, penggunaan warna dalam berbagai keperluan serta sandi-sandi dalam suatu komunitas dan sebagainya. Begitu juga dengan sastra yang bisa dikatakan tidak terpisahkan dengan sistem tanda dan lambang. Sebab tanda sudah merupakan bagian terpenting dalam sastra yang digunakan untuk menyampaikan pesan ataupun gagasan pengarang terhadap pembaca.
            Karya sastra hususnya puisi menggunakan lambang bahasa sebagai medianya, hal itu erat hubungannya dengan hakikat dari sastra puisi yaitu pemadatan, sehingga gagasan yang panjang dituangkan melalui lambang bahasa berupa kata yang dianggap mampu mewakili pikiran pengarang.
             Dengan metode ini penulis berusaha mengkaji unsur intrinsik dari puisi berjudul “Slopeng Basah” serta mengungkap secara objektif pesan yang secara implisit tersimpan di dalam puisi berdasarkan lambang ataupun simbol bahasa yang digunakan oleh pengarang dalam puisi tersebut.
           


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Analisis Struktur Puisi
1.      Analisis struktur fisik puisi “Slopeng Basah”
a.       Diksi
           Diksi merupakan pemilihan kata yang dilakukan penyair. Karna puisi merupakan system lambang maka tentunya tiap kata mewakili banyak makna, untuk itu kata yang digunakan harus cermat dan tepat sesuai dengan apa yang dilambangkan, Diksi juga dapat mencerminkan seberapa kreatif pengarang dalam menulis puisi, pemilihan diksi yang tepat akan menentukan tingkat kepaduan makna ataupun gagasan penyair sehingga peyampaian pesan akan betul-betul utuh. Pada judul  puisi “slopeng basah” sudah dapat kita lihat.
           “Slopeng” merupakan nama suatu tempat yaitu pantai, Kata (Slopeng) identik dengan air dan air identik dengan basah atau, sesuatu akan basah apabila terkena air. Dan Pantai (slopeng) penyebab terjadinya basah.
           Begitu juga dengan diksi yang dipakai dalam baris-baris berikutnya seperti pemilihan kata “Ombak, gemuruh, Melabuh, angin riuh” memiliki keterkaitan dengan kata “Slopeng” yang berarti pantai yang identik dengan itu semua.
b.      Citraan (Imaji)
           Citraan yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi seperti penglihatan, pendengaran dan perasaan, contohnya pada penggunaan kalimat “slopeng basah, ombak gemuruh, tak melabuh” memberikan citraan visual seolah-olah pembaca dapat merasakan pengalaman penyair dalam mendeskripsikan kondisi panatai sehingga dengan begitu imajinasi pembaca akan hidup mengikuti apa yang tertulis dalam puisi. Citraan perasaan juga dpat dirasakan dari kalimat “jatuh bersama mimpi, terjaga seketika, merasa seketika”. Yang menggambarkan suasana batin sang penyair.


c.       Gaya Bahasa.
           Gaya bahasa perupakan bahasa berkias yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkankonotasi tertentu (Soedjito, 1986:128). puisi  ini  menggunakan bahasa permajasan yakni kiasan-kiasan metafora, yang mana penyair merusaha mengungkapkan suasana batin dengan lambang bahasa yang memiliki kemiripan eksistensi seperti halnya “mendingin tubuh” melambangkan kegelisahan yang dialami penyair, kemudian “Ombak Gemuruh” melambangkan gejolak perasaan penyair yaitu bercampur baurnya berbagai perasaan di dalam jiwanya. “Serindu tak melabuh” mengiaskan perasaan yang sama-sama dimiliki namun tak dapat disatukan karna terpisah jarak tempat dan jarak waktu. “angin riuh” melambangkan puncak kegalauan batin yang terombang ambing oleh kenangan yang tiba-tiba hadir menyerang pikirannya.

2.      Analisis struktur batin puisi “Slopeng Basah”
a.       Tema
           Tema megupakan gagasan utama yang terdapat dalam puisi yang biasanya menjadi focus pembahasan. Berdasarkan analisis dapat di simpulkan bahwa puisi ini bertema tentang suatu kenangan masa lalu yang kemudian hadir dalam pikiran dan jiwa pengarang mengusik batinnya dan menimbulkan perasaan-perasaan batin  dan kemudia membuat panyair tersadar akan sesuatu, yakni perasaan cinta nya terhadap seorang wanita yang hadir menghiasi kenangan masa lalunya.
b.      Rasa (feeling)
           Rasa merupakan suasana penyair yang tertuang dalam puisi dalam hal ini berupa perasaan gelisah, rindu, dan kegalauan batin.
c.       Amanat
           Adapun amanat yang disampaikan penyair yaitu bahwa segala kenangan masa lalu tentang perasaan cinta terhadap seseorang bisa saja muncul dan tidak dapat dipungkiri bahwa hal itu akan menimbulkan perasaan gelisah, kalut rindu dan sebagainya. Secara tegas dapat ikatakan bahwa kenangan tak kan pernah bisa hilang dari diri seseorang.

B.     Interpretasi Berdasarkan Metode Semiotik
 (Judul)                        “Slopeng Basah”
            “Slopeng” merupakan nama suatu tempat yaitu pantai Slopeng yang letak geografisnya di daerah Sumenep. Pemilihan Slopeng sebagai judul sekaligus kata yang mengawali puisi memiliki peran penting. Kata Slopeng mempunyai pengaruh terhadap pemilihan kata setelahnya yaitu “Basah” Sebab pantai (Slopeng) identik dengan air dan air identik dengan basah atau, sesuatu akan basah apabila terkena air. Dan Pantai (slopeng) penyebab terjadinya basah.
            Kata “basah” berantonim dengan kata “kering”. Kata “basah” pada judul puisi merupakan lambang bahasa yang digunakan oleh pengarang untuk mengungkapkan sesuatu yang sifatnya baru (suatu yang sudah lama kembali terasa baru), sedangkan kata “kering” jika di korelasikan akan bermakna lama (sudah berlalu, sudah terlupa) .
            Dengan demikian dapat diartikan sesuatu peristiwa atau perasaan batin yang sudah berlalu/terlupakan yang kini hadir kembali/terkenang kembali/tersadar kembali/teringat kembali. Atau dengan bahasa semiotiknya “yang telah ‘kering’ kini ‘basah’ kembali.

(Baris 1)          “Slopeng mendingin tubuh”
            “Slopeng” dalam baris pertama menandakan bahwa pantai Slopeng merupakan penyebab penyair terkenang kembali peristiwa atau perasaan batin yang sudah lama berlalu terkenang/teringat kembali. Dilanjutkan dengan “Mendingin tubuh”. “mendingin” merupakan dampak dari basah yang identik dengan menggigil, sedangkan “tubuh” melambangkan diri penyair.
            Baris pertama secara keseluruhan dapat dipahami demikian. Peristiwa atau perasaan batin di masa lalu yang kini terkenang kembali memberikan efek terhadap diri penyair berupa kegelisahan yang begitu hebat yang di lambangkan dengan kata “mendingin”

(Baris 2)          Terkenang jauh
            Kata “terkenang” pada baris dua menjadi penguat dari interpretasi kata “basah” pada judul puisi yang dimaknai dengan sesuatu yang hadir kembali/terkenang kembali/tersadar kembali/teringat kembali. Dan kata “jauh” melambangkan jarak waktu yang sudah terlampau jauh antara peristiwa lempau (kenangan) dengan masa sekarang (yaitu saat puisi itu ditulis). Artinya sudah berlalu sangat lama.

(Baris 3)          Bulan kutinggal
            “Bulan” bisa dipastikan merupakan lambang dari seorang wanita yang berparas cantik atau wanita yang istimewa bagi penyair. Dilanjutkan dengan “kutinggal” maksudnya penyair pernah bersama tapi karna alasan tertentu penyair meninggalkannya. Bisa karna sengaja atau terpaksa karna tuntutan takdir dan sebagainya.

(Baris 4)          Ombak gemuruh
            Sifat ombak bergemuruh, bergelombang, bergelora dan bergejolak. Hal ini menggambarkan suasana batin yang dirasakan penyair berupa gemuruh dan gejolak dari berbagai macam perasaan yang timbul dihatinya antara senang kecewa, sedih, dan penyesalan. Perasaan itu hadir bersamaan dengan menyeruaknya kenangan masalalu yang tiba-tiba hadir menyerang jiwa dan raga sang penyair. Sehingga seolah-olah perasaan itu “(me)-mainkan gelisah rindu (nya)” yang penyair tuangkan dalam baris berikutnya.

(Baris 5)          Mainkan gelisah rindu
            Pada bagian ini dapat diinterpretasikan bahwa suasana tersebut seolah-olah mempermaikan perasaan dan emosi sehingga bercampur antara perasaan gelisah dalam gejolak kejiwaan penyair dengan perasaan rindu sebab bagi penyair dia adalah bulan yang disayangi dan istimewa bagi penyair.

(Baris 6)          Serindu tak melabuh
            Kata “serindu” melambangkan perasaan yang sama antara penyair dengan dia (Bulan), seperti perasaan kasih sayang yang sama-sama dimiliki oleh keduanya, perasaan rindu yang ditimbulkan oleh kasih sayang diantara mereka.
            “tak Melabuh” atrinya tidak singgah melambangkan bahwa meskipun memiliki perasaan yang sama namun keduanya tak lagi bersama dan bersatu.

(Baris 7)          Angin riuh
            “Angin riuh”  adalah jenis angin yang tidak bersahabat, angin yang sangat kencang yang dapat menghancurkan segala sesuatu yang dilewatinya. Hal ini  melambangkan kegalauan yang tiba-tiba menjadi-jadi seolah-olah menghancurkan jiwa sebab meskipun sang penyair memiliki perasaan sayang terhadap dia (Bulan), penyair tidak dapat bersama kembali seperti yang telah dijelaskan pada interpretasi baris 6.

(Baris 8)          Jatuh bersama mimpi
            Setelah terombang-ambing oleh kegalauan jiwa yang begitu dahsyat penyair seolah-olah terhempas jatuh seketika bersama impian yang tak mungkin dia dapatkan kembali, sebab waktu yang sudah berlalu tak mungkin dapat dia ulang kembali. Kata “jatuh” disini melambangkan ketidakberdayaan penyair setelah mengenang semuanya tentang masalalu beruapa cinta dan kasih sayangnya yang penyair miliki untuk sang “Rembulan”.

(Baris 9)          Terjaga seketika
(Baris 10)        Merasa eketika
            “terjaga” artinya tersadar dari keaadaan sebelumnya dan mulai merasakan keadaan yang sebenarnya. “merasa seketika” merupakan perlambangan dari kesadaran penyair terhadap perasaan jiwanya yang dahulu tidak beritu ia rasakan.
            Maksud dari baris 9 dan 10 yaitu Setelah beberapa saat penyair larut dalam kenangannya bergelut dengan gejolak jiwanya, tenggelam dalam kegalauan hatinya maka di saat itulah penyair mendapatkan kesadaran terhadap kenyataan yang saat ini dia jalani bahwa “Bulan” tidak lagi bersamanya dan tak dapat lagi bersamanya. Disaat itu juga dia merasakan bahwa dalam lubuk hatinya terdapat perasaan yang begitu kuat yang terangkat kepermukaan.

(Baris 11)        Slopeng menyadarkan cinta
            Dan perasaan yang begitu kuat itu ditegaskan dalam baris terahir, yaitu perasaan cinta. “Slopeng” merupakan sebab terkenangnya penyair terhadap peristiwa atau perasaan batin pada masa lampau yang membuat jiwanya terguncang dan bergejolak serta membuat hatinya gelisah. Sebab dalam lubuk hatinya dia menyimpan perasaan cinta yang berbuah kerinduan kepada seorang wanita yang dahulu sempat mengisi cerita hidupnya namun entah dengan alasan tertentu penyair meninggalkannya sehingga pada akhirnya menyisakan kenangan yang tak terlupakan.
BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil interpretasi dapat diperoleh dua kesimpulan yakni kesimpulan teori dan kesimpulan interpretasi yaitu:
1.      Kesimpulan Teori.
      Metode Struktural Semiotik merupakan metode kritik yang mengkaji tentang struktur puisi kaitannya dengan sistem lambang  yang digunakan dalam puisi untuk mewakili gagasan pengarang yang ingin disampaikan.
      Metode ini di anggap mampu dalam mengungkap makna tersembunyi dengan cara membedah lambang bahasa yang digunakan penyair dalam menyampaikan pesan.
2.      Kesimpulan interpratasi
      Dengan menggunakan metode Struktural Semiotik puisi “Slopeng Basah” dapat dimaknai peristiwa atau perasaan batin pada masa lampau yang membuat jiwa sang penyair terguncang dan bergejolak serta membuat hatinya gelisah. Sebab dalam lubuk hatinya dia menyimpan perasaan cinta yang berbuah kerinduan kepada seorang wanita yang dahulu sempat mengisi cerita hidupnya namun entah dengan alasan tertentu penyair meninggalkannya sehingga pada akhirnya menyisakan kenangan yang tak terlupakan.
      Secara umum dapat artikan bahwa segala kenangan masa lalu tentang perasaan cinta terhadap seseorang bisa saja muncul dan tidak dapat dipungkiri bahwa hal itu akan menimbulkan perasaan gelisah, kalut rindu dan sebagainya. Secara tegas dapat ikatakan bahwa kenangan tak kan pernah bisa hilang dari diri seseorang.



Baca Juga:
Makalah tentang Kepunahan Bahasa
Makalah tentang Pembaca Karya Sastra


 jangan lupa komentarnya sob...!!!
Analisis Puisi "Slopeng Basah" karya Urip Sukamto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar